Minggu, 26 Januari 2014

Dari: Senja, Kepada: Fajar

Ketika senja tiba
Gelap temukan cahaya
Kelam temukan lentera
Malam temukan kejora

Mestinya..
Jiwa temukan pasangannya
sebelum tertutup mata
Selamanya..

Tanpa perlu bertanya
Harta yang dibawa
atau keelokan rupa

Harusnya..
Seperti fajar temukan pagi
Hati jadi mentari..

(14~12~13)

Jika Aku Memilih

Aku memilih sendiri
Bukan berarti sepi
Tanpamu atau dia
Hanya karena aku tak pahami
Harus kemana langkahkan kaki

Aku memilih diam
Bukan berarti bungkam
Hanya karena tak sanggup berucap
mengungkap padamu atau dia
atas segenggam rasa

Aku memilih bertahan
meski kepedihan hampiriku
Hanya karena aku bertekad
terlihat kuat
di depanmu atau dia
seakan hidup bahagia

Aku memilih menerima
Entah senyum atau air mata
Entah wajahmu atau dia
Jika aku memilih
yang lainnya
Aku pun bertanya
mampukah aku menerima?

(Mjk, 22.12.13)


*Sekilas Keajaiban*

(21 Desember 2013)

Keajaiban membawaku
melaju ke alam terindahku
Melewati lorong sang waktu
lenyapkan lara ragaku
Kisah tercipta siluet kenanganku

Keajaiban menjemputku
Menembus sejuk aroma embun
Cahaya kuning keemasan
berpendar menyapaku
Kilau hijau dedaunan
menyambutku di kiri-kanan
Diiringi nada mengalun merdu membelaiku

Nyaman pada pangkuan keajaiban
Memikat teramat singkat
sekilas tanpa bekas
tinggalkan pedih rindu membelenggu
di alam hampaku kelabu
Jejak keajaiban musnah berlalu
Kapankah kembali ke hadapanku?

~Saksi Bisu~

(9 Desember 2013)

Membangun cita
di balik dinding megah
Menyulam asa
langkah penuh keyakinan
Melalui gerbang kebanggaan
Belajar makna masa depan

Masih terukir indah
segala tangis dan tawa
Walau berpuluh tahun berlalu
tak habis dimakan zaman
Meski terlindas roda kehidupan

Sekarang perjalanan
telah memetik hasilnya
Tak mungkin kembali
ke belakang lagi
Kini tersisa gambar dan abjad
tercetak, terangkai
pada kertas-kertas berharga

Begitulah saksi bisu
bercerita padaku
Aku pun berkata,
"Terima kasih
telah warnai memoriku"

PUISIKU

Perjalanan Malam

Malam merangkak ke puncaknya
Jalanan hening tanpa penghuni
Kelam
Sunyi
Belum berhenti

Cahaya samar kutangkap
Suara sayup membelai
dan harum memeluk jiwa
Menggenggam mimpi
Menipu seakan nyata

Terlanjur serahkan hati
Saat tiba masa 'tuk pergi
Terbangunkan sirna
Pahit
Nyata yang tiada

Minggu, 09 Desember 2012

Puisi

*~ Bunga Musiman ~*



Jadilah kau bunga
yang selalu ingin mengembang
selalu mekar sepanjang musim
Tak peduli musim basah atau kemarau
Jadilah kau bunga
yang tumbuh pada setiap waktu
yang tegar walau dalam belukar
Tumbuhlah, kembanglah
Di manapun engkau ditaburkan

Karya: Tegar Rahmaheno (kls X SMA Muhammadiyah 1 Mojokerto)

Sabtu, 08 Desember 2012

Cerpen


Sayap Cinta

            Wajah lelaki itu tak asing bagiku. Sepertinya aku pernah mengenalnya di masa lalu. Tapi begitu banyak yang berubah darinya. Bagaimana mungkin aku seorang perawat yang bertugas di rumah sakit ini bisa bertemu dengannya. Dia mengenakan jas putih dengan stetoskop menggantung di leher. Dia seorang dokter muda yang baru ditugaskan di rumah sakit ini. Aku hampir tak bisa percaya. Sayap takdir telah menerbangkan kami hingga bertemu di sini.

            “Yogi Andrian Firdaus. Benarkah itu kamu?” tanyaku.
            “Iya, Alika Septania. Akhirnya kita bertemu lagi,” jawabnya sambil tersenyum. Ada kelegaan di hatiku yang selama bertahun-tahun merasa kehilangan. Kini telah lengkap rasanya bagai dilahirkan kembali di kehidupan baru. Siapa sangka Yogi yang di masa kecilnya selalu membuatku menangis, kini membuatku tak berhenti tersenyum sedikitpun. Dokter muda, Yogi. Sayap patahku mampu terbang kembali bersamanya…..
***
Suatu sore yang cerah di hari libur, aku dan Yogi janjian bertemu di sebuah taman. Sudah saatnya kami bernostalgia mengenang masa kecil. Dulu, keluarga Yogi adalah tetanggaku. Yogi kecil dan aku juga bersekolah di SD yang sama. Dia kakak kelasku.
“Dokter Yogi!” panggilku setelah menemukan sosok yang kukenal itu duduk di sebuah bangku taman.
“Hay, Alika…. Jangan panggil Dokter! Ini bukan rumah sakit. Kita tidak sedang bertugas,” protes Yogi. Aku hanya tersenyum lalu duduk di sampingnya. Tidakkah dia tahu, betapa bangganya aku memanggilnya dengan sebutan “Dokter”. Aku hanya terdiam memandang sekitar. Suasana sore yang damai. Burung-burung beterbangan dengan riang di antara pepohonan taman. Seakan-akan mereka merayakan pertemuan kembali antara aku dan Yogi.
“Lihatlah! Aku iri dengan burung-burung itu. Yogi, apa kamu ingat kisah masa kecil kita dengan burung?” tanyaku.
“Tentu saja! Kamu selalu bilang, ‘Andai reinkarnasi itu ada, aku ingin dilahirkan menjadi seekor burung. Yang punya sayap, yang bisa terbang’,” jawab Yogi. Ingatan kami kembali ke masa anak-anak.

Waktu itu, usiaku baru tujuh tahunan dan Yogi sepuluh tahunan. Aku dan Yogi sangat sering bermain bersama. Tapi kami juga lebih sering tidak akur. Yogi kecil sangat suka menggangguku. Setiap permainan yang kulakukan, dia selalu membuat onar. Rasanya dia semakin gembira jika berhasil menggagalkan acara bermainku. Aku sangat sering menangis karena Yogi kecil. Senjata yang paling kuingat untuk Yogi berbuat onar adalah sebuah ketapel. Saat aku bermain masak-masakan, boneka, atau apapun, dia selalu menembak dengan ketapelnya hingga mainanku berantakan. Semua benda-benda di sekitar juga menjadi sasaran ketapel Yogi.
Korban ketapel Yogi yang terparah adalah seekor burung gereja. Dengan kerikil, Yogi menembakkan ketapelnya hingga tepat mengenai burung gereja yang hinggap di dahan pohon. Burung itu jatuh ke tanah dengan satu sayapnya patah. Aku yang melihat kejadian itu segera memungut sang burung. Aku menangis tersedu dan memarahi Yogi kecil. Tega sekali dia! Aku membawa burung itu dan merawatnya di rumah. Sejak merawat burung itu, aku bercita-cita menjadi perawat. Aku ingin merawat sang burung hingga mampu terbang kembali.
Dengan bantuan orang tuaku, aku merawat burung gereja itu. Ayahku meletakkannya di sebuah sangkar. Beberapa pekan kemudian, keadaan burung itu semakin membaik. Sepertinya dia segera akan bisa terbang. Aku sangat gembira setiap hari memperhatikannya dari balik sangkar.
Hingga pada suatu hari, Yogi kecil bermain di rumahku. Awalnya dia ikut mengamati si burung gereja yang mulai lincah bergerak di dalam sangkar. Kemudian entah bagaimana tangan  jahil Yogi membuka-buka penutup sangkar. Tak disangka, burung gereja itupun terlepas. Terbang jauh dari sangkarnya dan tak kembali. Aku menangis sejadi-jadinya melihat burung yang selama ini kurawat, kini lepas dari sangkarnya. Aku sangat sedih. Hingga setiap kali aku melihat burung terbang di langit, aku merasa iri. Aku ingin terbang seperti mereka. Aku ingin menjadi burung.
Aku tak pernah membenci Yogi walau dia selalu membuatku menangis. Hingga akhirnya Yogi harus pindah rumah karena ayahnya dipindahtugaskan ke luar kota. Aku merasa sangat kehilangan. Aku semakin ingin menjadi burung. Dengan menjadi burung, aku akan terbang dan mencari kemana Yogi berada. Bagiku, Yogi adalah sahabatku. Walau dia selalu mengganggu, tapi justru karena itu aku selalu mengingatnya. Aku ingin kelak saat dewasa bisa bertemu dengannya lagi. Tapi entah bagaimana caranya?
Saat itu, aku tak mengerti Yogi pindah ke kota mana? Aku hanya bisa mengingat kenangan masa kecilku bersamanya. Aku memilih fokus mengejar cita-citaku. Hingga akhirnya aku berhasil menjadi perawat dan ditugaskan di rumah sakit ini. Siapa sangka di sinilah aku bertemu lagi dengan Yogi. Bahkan bertemu dengannya sebagai seorang dokter! Kini Dokter Yogi sedang duduk di sampingku. Mengingat segala kenangan itu.

“Bagaimana mungkin kamu menjadi dokter, Yogi? Aku tidak menyangka,” ucapku.
“Alika, maaf…. Waktu kecil aku sangat nakal padamu. Maaf, selalu membuatmu sedih dan menangis….”
“Yang terpenting, sekarang aku sudah tak menangis lagi karena kamu. Tapi aku sangat bangga. Sekaligus heran. Aku masih tidak percaya.”
“Kamu tahu, Alika? Saat orang tuaku mengatakan keluarga kami harus pindah rumah secara mendadak, aku merasa sangat sedih. Aku belum sempat meminta maaf padamu atas semua kenakalanku. Aku membuang ketapelku. Aku menyesal. Saat berpisah, aku ingin bertemu denganmu. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya? Hingga aku punya sebuah cara terbaik supaya aku bisa bertemu denganmu lagi…”
“Bagaimana caranya, Yogi?”
“Aku ingat kamu berkata ingin menjadi seorang perawat. Agar aku bertemu denganmu, tentu aku harus menjadi dokter! Sejak itulah aku bercita-cita menjadi dokter. Aku belajar sungguh-sungguh. Bukan hanya untukmu, tapi juga untuk menebus kesalahanku yang pernah menyakiti seekor burung…”
Mataku berkaca-kaca mendengar penjelasan Yogi. Dia yang masa anak-anaknya sangat bandel, ternyata kini menjadi dokter yang mengagumkan,
“Yogi, kesungguhanmu membawa hasil. Akhirnya kita bertemu lagi. Aku sebagai perawat dan kamu sebagai dokter,” aku tersenyum. Aku merasa jadi orang paling bahagia di dunia.
“Aku tak mau berpisah denganmu lagi,” ucap Yogi.
“Yogi….. Bagaimana kalu kita mati? Tentu kita akan berpisah…..”
“Andai ada reinkarnasi, aku ingin kita berdua menjadi burung. Aku ingin terbang bersamamu, Alika.”
Ucapan Yogi menimbulkan perasaaan yang aneh dalam hatiku. Tiba-tiba aku malu menatap Yogi. Aku membuang pandanganku jauh ke langit yang mulai diselimuti senja. Burung-burung terbang pulang ke sarangnya. Begitu indah. Bagiku, sayap adalah bagian tubuh yang paling indah. Karena dengan sayap, burung dapat terbang mengelilingi angkasa. Oh, aku sangat ingin merasakannya. Terbang bersamanya. Yogi. Dia menggandeng tanganku dan mengajakku beranjak pergi. Taman mulai gelap karena senja berganti malam. Aku dan Yogi berjalan bersama. Sayap cinta berkembang di antara kami. Bawalah kami terbang setinggi awan….

Senin, 19 November 2012

Cerpen


“LOVELY CAKE”
Ya ampun..!! Meisya bangun kesiangan! Padahal ini hari pertamanya masuk kerja. Meisya tergesa-gesa berangkat ke tempat kerjanya. Ia sudah terlambat hampir satu jam. Dengan penampilan kurang rapi, Meisya berlari memasuki sebuah toko kue. Di atas pintu toko kue itu terpasang papan bertuliskan “LOVELY CAKE”.
Meisya sangat  memimpikan bekerja di toko kue ini. Namun setelah ia berhasil lulus tes, ia justru datang terlambat di hari pertamanya bekerja. Dengan kepanikan luar biasa, Meisya memasuki “LOVELY CAKE”.  Baru sampai di depan pintu, seseorang berbadan tegap berdiri menghadangnya dengan tangan terlipat di dada.
“Kamu pegawai yang baru diterima kemarin?” tanya pria muda itu kepada Meisya.
“I-iya….,” Meisya terkejut setengah mati. Ia mengamati wajah orang di depannya yang sangat tidak ramah. Jangan-jangan dia……..
“Kemarin saya ke luar kota beberapa hari, jadi saya belum tau tentang kamu. Meskipun kemarin asisten saya, Chef Vina udah nerima kamu, tapi belum tentu saya nerima kamu juga!” pria itu bicara lagi dengan nada tegas dan wajah serius. Meisya hanya melongo seperti melihat makluk asing di depannya. Wajah pria itu tetap tampan walau memasang ekspresi sok judes.
“Bengong lagi! Kamu tau nggak siapa saya?”
Meisya hanya menggeleng.
“Saya Enrico, owner LOVELY CAKE. Panggil aja Chef Rico! Chef Vina udah cerita tentang kamu. Ehm… Namamu siapa? Saya lupa…”
“Ooo… M-Meisya. Nama saya Meisya, Chef,” Meisya terkejut sekaligus senang. Ia baru tahu Chef Rico, bosnya sekeren ini. Ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman, tapi Chef Rico memasukkan tangannya ke saku celana. Meisya semakin kikuk.
“Meisya, kamu tau sekarang jam berapa?”
“Jam 8, Chef..”
“Kamu udah dikasih tau kan, jam kerjamu mulai jam berapa?”
“Iya… Jam 7, Chef…”
“Kenapa sekarang baru datang? Terlambat satu jam!”
“Maaf, Chef…. Saya….”
“Udah, cepat masuk dapur!  Bantu Chef Vina dan Chef Adit. Saya males dengerin alasan kamu! Daripada buang-buang waktu lagi, mending kamu langsung ke dapur. Tapi inget, saya belum nerima kamu sepenuhnya di sini!” setelah “menyambut” Meisya, Chef Rico segera pergi menuju ruangannya.
Glek…. Meisya menelan ludah. Jantungnya masih berdegup tak karuan. Hari pertama bekerja yang sangat sial. Belum apa-apa, sudah dimarahi big boss. Tapi ada yang aneh dengan perasaan Meisya. Meskipun kesal karena dimarahi, tapi ia sungguh kagum pada ketegasan Chef Rico.
Setelah Chef Rico pergi, datanglah Chef Vina dan Chef Adit menghampiri Meisya. Chef Vina menghibur Meisya,”Udah, gak usah dipikirin. Emang gitu Chef Rico sok galak. Tapi sebenarnya dia baik kok! Kamu harus bisa ambil hatinya”.
Chef Adit yang gendut dan ramah juga nyeletuk,”Kayaknya, ada yang terpesona dengan aura Chef Rico nih! Ciee… Cieee…. Hehehe…”
“Hhmm, gawat! Aku hampir jantungan dapat sambutan shock terapy dari big boss. Duh, gimana nih? Chef Rico marah ma aku…,” Meisya panik.
“Udahlah, kita lihat nanti reaksi Chef Rico selanjutnya. Sekarang kamu bantuin kita yuk di dapur,” Chef Vina mengajak Adit dan Meisya untuk mulai  bekerja.
***
Beberapa hari bekerja di “LOVELY CAKE”, ada saja kesalahan yang diperbuat Meisya. Selain karena ceroboh, konsentrasi Meisya terpecah akibat perasaannya pada Chef Rico. Setiap kali bosnya itu lewat di dapur, jantung Meisya jadi berdetak kencang dan rasa gugupnya semakin menjadi-jadi. Dari sekian banyak kesalahan Meisya, akhirnya ada satu kesalahan yang mengusik ketenangan Chef Rico. Big boss itu menemui Meisya di dapur.
Klontang…!!!! Meisya menjatuhkan sebuah loyang kosong. Ia mengambil loyang itu di bawah meja dapur. Saat berdiri, ia melihat Chef Rico sudah di hadapannya. Meisya mulai jantungan.
“Eh, Chef Rico! Ada apa, Chef?” tanya Meisya berusaha setenang mungkin.
“Kemarin ada pelanggan yang komplain. Namanya Ibu Imelda. Dia pesan strawberry cake, ternyata sampai rumah dapatnya cheese cake. Dari yang saya dengar, kamu yang membungkus cake itu??” tanya Chef Rico penuh selidik.
“I-iya, Chef…. Maaf kemarin saya salah membungkus cake…,” Meisya gemetaran.
“Bukan cuma itu! Berapa kali kamu melakukan kesalahan-kesalahan yang lain? Bisa kerja nggak???” bentak Chef Rico.
“Maaf, Chef… Tolong maafin saya. Saya janji kerja dengan baik. Saya ingin kerja di sini, Chef,” Meisya memohon.
“Ikut ke ruangan saya!” perintah Chef Rico. Meisya mengikuti bosnya dengan jantung berdebar-debar.
Di ruangan Chef Rico……..
“Kamu tau kenapa saya selalu marah-marah sama kamu?” Chef Rico mencoba sabar,”Saya nggak mau punya pegawai seceroboh kamu!”
“Tapi, Chef….. Tolong berikan saya kesempatan lagi. Saya janji gak akan ceroboh lagi,” Meisya hampir menangis. Impiannya adalah menjadi pembuat kue yang handal. Apalagi setelah diterima bekerja di sini, Meisya merasa kagum pada Chef Rico. Walaupun perasaan ini membuatnya semakin gugup, salah tingkah, hingga berbuat banyak kesalahan. Tapi setiap hari bertemu Chef Rico membuatnya bersemangat.
“Saya beri satu tes lagi. Kalau dalam tes ini kamu gagal, kamu harus berhenti kerja di sini!” Chef Rico menjelaskan,”Kamu harus membuat satu cake kesukaan saya!”
Meisya menjawab dengan antusias,”Baik, Chef! Saya akan buat cake itu! Rasa apa kesukaan Chef Rico?”
“Itulah…… Kamu harus cari tau sendiri, cake rasa apa kesukaan saya!” Chef Rico memasang wajah misterius,”Saya beri waktu 3 hari. Kamu harus berikan cake itu pada saya!”
***
Meisya pusing tujuh keliling. Darimana bisa tahu cake kesukaan Chef Rico? Ia sudah bertanya pada Chef  Vina dan Chef Adit, tapi mereka dilarang menjawab oleh Chef Rico. Harus tanya ke siapa lagi?? Meisya memutar otak. Oh iya, ada satu pelayan lagi di toko kue “LOVELY CAKE”. Namanya Lola. Saat Meisya bertanya, Lola pun menjawab tidak tahu. Meisya hampir putus asa.
Keesokan harinya…….
Hari ini tidak seperti biasanya, Mesya datang pagi-pagi sekali ke “LOVELY CAKE”. Siapa tahu ada petunjuk? Meisya masuk ke dapur. Ia melihat Lola baru selesai bersih-bersih.
“Hai, Mei…. Tumben pagi-pagi udah datang? Pasti lagi menyelidiki. Hahaha…..,” sapa Lola sekaligus meledek.
Senyum Meisya terlihat dipaksakan. Ia hanya terdiam mengamati Lola yang sedang membuat minuman dalam cangkir. Ia menghampiri cangkir itu dan mencicipi sedikit minuman di dalamnya.
“Eh, ehhh…!! Itu minuman buat Chef Rico..!!! Kok malah diminum sih??!! Aduh..!!!” Lola memarahi Meisya.
“Oh, buat si boss?? Sorry, aku nggak tau. Emangnya tiap hari bos minum ini?”
“Iya! Udah sana, jangan ganggu kerjaanku!” Lola mengusir Meisya. Tapi Meisya sudah menemukan satu hal. Chef Rico suka meminum ini setiap hari. Capuccino!
***
Akhirnya….. Selesai juga satu cake rasa cappuccino berbentuk hati. Kue yang sangat indah! Meisya puas dengan hasil kerjanya. Ia yakin rasa favorit Chef Rico adalah cappuccino. Tapi Meisya masih ragu. Hhmm, sudahlah! Lihat saja nanti. Meisya membawa kuenya menuju ruangan Chef Rico. Tok… tok… tok…. Meisya mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian, Sang bos membukakan pintu.
“Meisya…. Silakan masuk.”
“Ini Chef kuenya…,” Meisya sedikit gugup berhadapan dengan bosnya. Tapi ia pasrah apa pun yang akan terjadi. Ia meletakkan kuenya di meja. Chef Rico memandangi kue itu dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.
“Jadi menurut kamu, cake rasa apa kesukaan saya?”
“Chef coba langsung aja…”
“Oo… Ganti kamu yang bikin saya penasaran,” dengan pisau dan garpu, Chef Rico mengambil sepotong kue Meisya. Ia mencicipi kue itu. Mengunyah beberapa detik. Lalu ia pun tersenyum.
“”Capuccino cake…. Darimana kamu tau?” Chef Rico bicara dengan ekspresi puas. Senyum yang hampir tak pernah dilihat Meisya itu pun akhirnya tampak.
“Benar Chef suka cappuccino??? Untung saya datang pagi-pagi Chef. Saya jadi tahu, kebiasaan Chef Rico minum cappuccino tiap pagi,” Meisya menjelaskan. Ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
“Itulah yang harus kamu lakukan! Datang pagi-pagi, kerja yang bener dan rajin! Hasilnya bagus kan? Saya tau kamu berbakat, tapi hilangkan kebiasaan burukmu. Baru kamu bisa berhasil!” Chef Rico menasihati dengan bersemangat.
“Saya sangat mengagumi Chef Rico. Impian saya menjadi chef hebat seperti Chef Rico. Saya ingin belajar di sini. Izinkan saya bekerja di LOVELY CAKE,” Meisya bicara dengan menahan haru. Perasaannya lega.
“Aku pasti bantu kamu mewujudkan mimpimu. Kamu kerjalah sumgguh-sungguh di sini,” Chef Rico tersenyum. Ini pemandangan terindah di LOVELY CAKE bagi Meisya.
“Silakan dinikmati cake-nya Chef,” Meisya sumringah. Ia telah membuat cake ini dengan sepenuh hati. Spesial untuk Chef Rico.
“Rasanya aku seperti dapat cake dari pacar,” goda Chef Rico pada Meisya,”tapi ingat, aku masih bos kamu ya…”
“Iya, iya Chef…. Thank you Chef Rico..” Meisya bahagia melihat Chef Rico menikmati capuccino cake buatannya dengan lahap. Meisya yakin bisa mengambil hati Chef Rico. I love you Chef…