Jumat, 28 November 2014

Ammar Zoni, the new name of my entertainer



Just for Entertainment
(Catatan Hati Korban TV)

Kotak ajaib bernama televisi memang sebuah hiburan termurah dan termudah. Meski gak semua yang ada di TV itu sesuai dengan selera. Tapi untuk sekedar hilangkan penat seharian, cukuplah aku nonton TV sambil lalu, gak perlu serius amat. Pantengin TV 1-2 jam, sebelum kantuk menyerang mata.

            Acara yang ditayangkan saat prime time hampir selalu booming, terutama sinetron Indonesia. Sebenarnya, keluarga di rumahku gak kebiasaan nonton sinetron. Apalagi sinetron sekarang pada lebay dan lagi nge-trend tema gak masuk akal. Setelah pindah-pindah channel sampai 20-an nomor, tetap gak ada yang menarik. Sampai akhirnya, tanganku berhenti memencet tombol remote. Yaitu di stasiun TV yang menayangkan sinetron berjudul “7 Manusia Harimau”.

            Pertama kali yang terlintas di pikiranku, pasti ini berniat menyaingi sinetron di TV sebelah yang bertema serigala, atau satwa sebangsanya. Tapi pemain di sini lebih ganteng-ganteng + senior, cuma beberapa aja yang pendatang baru. Dialognya gak sok-gaul-alay ‘elo-gue’, ‘O-em-ji, Helloo...’ dan kawan-kawan, bahasanya cukup baku dan teratur. Selain itu, adegan laga dan pertarungannya lumayan nyaman buat ditonton. Serasa film action lah. Juga ada unsur budaya karena diangkat dari kisah legenda. Bagus sih. Jadi, apa salahnya aku nonton.

            Tokoh utama gak diragukan lagi, Samuel Z. Dia udah lama wara-wiri di dunia sinetron Indonesia. Ganteng dan gagahnya udah bisa dipastikan. Beberapa tokoh lain juga lumayan cakep. Ada yang senior, ada junior, lengkap lah. Salah satu tokoh sampingan, Rajo Langit yang cukup antagonis mampu menarik perhatianku. Awalnya, aku gak ngeh dia itu siapa? Artis baru kemarin sore sih sepertinya. Tapi gantengnya itu lho, full gak setengah-setengah!

            Kemudian semakin lama aku perhatikan, aktingnya boleh juga. Bahkan dia lebih unggul daripada pemain sinetron alay. Wajahnya yang cowok banget, badan yang gagah, pakai jaket kulit, bikin dia cucok jadi antagonis. Tapi aku kok malah suka antagonis daripada protagonisnya, ya? Sampai rasanya patah hati waktu adegan dia jatuh ke jurang (untung gak mati, hehe....). Dan akhirnya, penasaran banget deh.... Aku buka si Mbah Google lalu browsing tentang dia: Pemeran Rajo Langit 7 Manusia Harimau

            Oh, ternyata nama aslinya si Rajo Langit itu Ammar Zoni. Gak pernah denger sih.... Dari browsing, aku baru tahu dia sebelumnya main di sinetron “Khanza 2”. Yaelah, gak pernah nonton bro...! Jadi, baru kali ini aku tahu artis yang namanya Ammar Zoni itu. Aku ngulik lagi deh di gambar Google, aku ketik: Ammar Zoni.

            Dan, wow, wow, woww... Foto-foto yang muncul bikin jantung berdebar, keringat dingin bercucuran, dan badan jumpalitan. *Wah, mulai lebay deh*. Aku baru tau ada artis sinetron Indonesia yang sebening ini ya.... Walaupun kemarin booming pemain sinetron yang serigala, vampir, wayang-wayang India, artis-artis cowok remaja setengah matang (seumuran adikku) yang geje, tapi gak ada yang buatku tertarik. Gak taunya, manusia harimau ini yang bikin aku meleleh. Astaga... Aku gak berhenti-berhenti ngucap “Subhanallah”, nyebut nama Tuhan “Allahu Akbar”. Tuhan Maha Pencipta yang bisa mengukir wajah rupawan ini. Masya Allah......

            Agak shock juga waktu aku baca biodatanya, ternyata dia lebih muda 2 tahun dariku. Waduh, baru inget umur deh aku... Ckckck... Ammar Zoni, nama baru yang memikat hati. Ternyata di usia yang sangat muda, dia sekeren itu. Gak kalah sama artis luar negeri. Wajahnya pun gak seperti orang Indonesia. Entah seperti India, Arab, bule, atau kadang di kamera terlihat seperti Korea juga. Yaaa, intinya Subhanallah begitu lah... Bikin aku gak bisa nahan untuk koleksi foto-fotonya ngambil dari si Mbah Google.

Ammar Zoni, nama yang susah dilupakan, begitu juga wajahnya. Lebih dari cukup buat hiburan semata. Terlalu subjektif sih. Semua kembali pada selera masing-masing. Tapi yang aku hargai, aku mengenal dia bukan karena orang tuanya terkenal dan bukan dari gosip di acara infotainment. Aku mengenal dia murni karena aktingnya. Sudah seharusnya begitu, sebab dia seorang aktor. Selamat menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini, tentunya cukup melalui karya aktingnya..... >.~

Biodata Ammar Zoni
Sumber: Wikipedia bahasa Indonesia
Ammar Zoni
Nama lahir
Muhammad Amar Alruvi
Lahir
Pekerjaan
Tahun aktif
2013 - sekarang
Orang tua
Suhendri Zoni Alruvi
Agama
Akun Twitter
Ammar Zoni (lahir di Depok, 8 Juni 1993; umur 21 tahun) adalah aktor berkebangsaan Indonesia.

Karier
Ia mengawali kariernya sebagai seorang model, kemudian ia memulai karier sebagai aktor dengan membintangi sinetron Khanza 2 bersama Velove Vexia dan Michella Putri. Selain sebagai aktor, ia beberapa kali menjadi bintang iklan. Pemilik tinggi bandan 187 cm ini pernah menjadi bintang iklan Freshcare bersama Agnes Monica.

Filmografi
Film
Sinetron
Iklan
  •        Freshcare
Referensi


Minggu, 16 November 2014

DIANNITA MOTIVATION


MOTIVATIONS 



*Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya, hanya saja tertutupi oleh ketidaktahuan kita akan masa depan.

*Seburuk-buruknya pengalaman itu terbaik untuk dijadikan pelajaran. Seindah-indahnya kenangan itu menyedihkan karena tak akan bisa terulang lagi.

*Biarlah usia berkurang, asal kebaikan bertambah.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

*Tabungan bukan uang yang kau simpan, tapi yang kau sedekahkan. Ilmu bukan kepandaian yang kau miliki, tapi yang kau ajarkan. Kebahagiaan bukan untuk memuaskan diri, tapi saat kau membahagiakan orang lain.

~Filosofi gerakan shalat~
Ketika hidup menjatuhkanmu, bangun dan kembalilah kepada Allah!
Ketika hidup meletakkanmu pada posisi lebih tinggi, bersujud dan kembalilah kepada Allah!
*bagaimanapun keadaan kita, semua berasal dari Allah, maka kembalilah kepada Allah*

*Ada orang yang bermoral tapi tidak mengenal Tuhan (berbuat baik tapi atheis). Ada pula orang yang mengenal Tuhan tapi tidak bermoral (mengaku beragama tapi perbuatan bejat). Alangkah beruntung bila orang bermoral karena mengenal Tuhan dengan baik.

*Melihat orang yang gak pernah susah payah, malah nyusahin orang lain, kerjanya cuma habisin duit, sepertinya enak (sak’enak’e dewe). Tapi bersyukurlah gak jadi orang seperti itu. Lebih bagus lagi kalau mampu kerja keras, cari duit sendiri, dan bantu orang lain.... *khusus perempuan*

*Baik-baiklah di sana,
di alam lainnya,
di tempat teramat jauh,
tak tertangkap mata,
tak tercemar rusaknya dunia fana,
itulah tempat terindah untukmu saat ini....
*kepada yang belum ada ataupun telah tiada*

*Menjadi TUA itu pasti, tapi DEWASA belum tentu.

*Agama, akhlak, pendidikan yg baik itu kunci ketentraman & kebahagiaan hidup. Harta, uang, materi bukan segalanya. Jika berlimpah tanpa rasa syukur, tetap sengsara. Jika kekurangan tanpa rasa sabar, pasti merana. Bukan berarti Allah tidak memberi yg kita inginkan, tapi kita yang tidak sadari sudah sebanyak apa nikmat yg Dia berikan, jika kita menutup mata hati. Astagfirullah.... Na'udzubillah...
Biarlah mengalir apa adanya. Semua akan indah pada waktunya. Beriringan usaha dan doa. Menata diri, pikiran, hati, dan semua akan baik-baik saja....

*Hidup sederhana tidak akan sengsara. Hidup hemat tidak akan tersesat. Hidup jujur tidak akan hancur. Insya Allah...

*Mengapa kau masih merasa sakit hati? Sedangkan agamamu mengajarkan ada 5 obat hati. Mengapa kau masih merasa kesusahan? Padahal Tuhanmu sudah berfirman "Sesudah kesulitan ada kemudahan" (Inna ma'al 'usri yusraa). Mengapa kau masih bersedih? Keyakinanmu menjelaskan "Jangan bersedih, Allah bersama kita" (La tahzan, innallaha ma'ana)

Selasa, 11 November 2014


Purnama di Atas Samudera

Malam itu dari balik jendelaku
Purnama di atas samudera
Pantulkan cahaya manja
Bahagia berdua
Tapi gelapku tertinggal di mata

Kau ingin tahu rasanya?
Bagai kaca pecah berkeping-keping
Hancur
Lalu satu demi satu
Ku pungut serpihannya
Ku susun dengan menahan luka
Hingga membentuk purnama
Retak berkilau di angkasa

Kau ingin tahu rasanya?
Bagai kanvas hitam
Sobek terkoyak malam
Lalu kuas jemariku
Tinta emas lukiskan garis
Hingga terlingkar purnama
Utuh
Tapi berlubang menembus kalbu

Seperti itu rasanya
Sendiri aku mengembara
Tanpamu malam itu
Ketika purnama di atas samudera

Semarang-Surabaya; Pantai utara Jawa
10.10.14

IKHLAS


Mungkin wajahku


bukan yang hiasi mimpi malammu
namun aku yang terjaga
menjaga hati penuh harap
ketika kau terlelap

Mungkin tanganku
terlalu kasar tuk genggam kulitmu
tapi karena kerja kerasku
maka tanganku mampu
memberi kepadamu
walau tak seindah yang kau mau

Mungkin ragaku
tak segagah idamanmu
seperti aktor drama favoritmu
yang kau khayalkan di pikiranmu
sedangkan aku ada untukmu

Mungkin gayaku
tak sekeren idolamu
yang kau gemari penuh haru
kau kejar sepanjang waktu
sedangkan aku di sampingmu

Mungkin rasamu
tak sama seperti aku
tapi usahaku
perjuanganku
pengorbananku
lihat aku ada di hadapanmu


Maaf, bila aku memaksa
maka terimalah
aku dengan rela
mengertilah meski entah
apa artinya cinta?

Yang aku tahu
aku ingin menemanimu
tak hanya di dunia
jika kelak kita tua
hingga maut tiba
kita bersama di surga

06.10.14

Jumat, 18 April 2014

Kisah yang Terangkai dalam Gerbong



     Liburan tanggal merah, 18 April 2014. Pukul 9 pagi di Stasiun Mojokerto.

Jarang-jarang, bahkan hampir gak pernah naik kereta api. Rasanya excited meski berangkatnya tanpa tempat duduk. Kereta api legendaris “Doho” yang aku dengar namanya sejak kecil. Wajahnya pun masih sama seperti dulu, meski sekarang ada AC tapi perlu lebih banyak pembaharuan. Memang sudah gak ada pedagang asongan berkeliaran, lebih tepatnya pedagang gak bisa masuk karena kepenuhan penumpang. Aku pikir akan berat menempuh perjalanan dengan berdiri, tapi ternyata menjalaninya tak seberat bayanganku. Meski bersandar di antara sambungan gerbong, di sebelah toilet yang kadang berbau saat tertiup angin. Tapi kau bilang gak apalah, gak tiap hari juga. :P
Berdiri berdesakan dengan beberapa anak muda, alias berondong. Kau main tebak-tebakan denganku, berapa umur mereka? Dan aku pun salah tebak. “Anak sekarang wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya, gak seperti kita,” kau bilang.
Saat kau ajak salah satu anak itu ngobrol, dia bilang kelas 9 SMP yang sebentar lagi ujian. Mereka berasal dari Jombang, tapi kok sempat-sempatnya main ke Surabaya waktu mendekati ujian begini. Dia bilang ingin melanjutkan ke pondok setelah lulus SMP nanti. Kita pun menyadari, ternyata kita ini orang yang punya banyak adik seumuran dia yang segera menjalani ujian. Untuk adik-adikku serta yang kemarin di kereta api, sukses yaa ujiannya... :D
Perjalanan berlanjut selama 1 jam dan sama sekali gak terasa. Sama sekali gak seperti naik roaller coaster atau wahana penyiksa orang. Semua berjalan tenang dan lancar. I like it... Sangat bisa menikmati, walau dengan berdiri. Biarlah, toh kata adik-adik, kebanyakan duduk bisa mengurangi umur. :P. Yang terpenting adalah naik kereta api anti mabuk perjalanan. Hoooorrrreeeee..... :D
Di pasar Wonokromo...
Putar-putar cari titipan ibu, ternyata lebih mudah daripada cari baju untuk diriku sendiri. Kejadian lucu buatku, saat cari baju di salah satu stan. Ada anak berusia 2 tahunan lagi lari-larian. Mungkin saking semangatnya dia baru bisa jalan dan lari, si adik kecil berlarian sampai ibunya ketinggalan jauh. Si adik yang di sebelahku ikut liat-liat baju dan deketin pramuniaga. Mbak pramuniaga itu pun tanya padaku,”Ini anak sampean ta mbak??”. Waduh, perasaan tadi aku berangkat gak bawa anak deh! “Bukan,” jawabku. Si anak lari lagi dan ibunya mengejar-ngejar. Beratnya bayangin bawa anak. Bawa diriku sendiri aja kuatir hilang, apalagi bawa anak. *Makanya belum dikasih amanah.*J
Di Royal Plaza...
Perjuangan berat itu saat cari tempat duduk buat makan di food court. Maklum lah tanggal merah. Full. Penuh banget! Habis makan lanjut ke Gramedia. Inilah salah satu kesamaan kita: gemar membaca. Setelah puas baca-baca dan milih-milih buku, kita bayar ke kasir, lalu ambil barang belanjaan yang dititipkan di tempat penitipan. Kita pun sepakat keluar dari Royal. Kita melepas lelah dengan duduk-duduk di trotoar samping Royal. Eh, gak taunya ketemu teman kuliah plus tetanggaku Mas Chandra. Dia memang petualang sejati. :D
Setelah ngecek barang belanjaan, ups.... Ternyata ada yang hilang! Sepatu kecil untuk keponakanmu, adik Nesa. Pasti tadi jatuh di tempat penitipan Gramedia. Padahal tadi belinya udah jalan keliling pasar Wonokromo. Sekarang udah keluar Royal pun, harus balik masuk lagi ke dalam! Capeeekkkk... Tapi gak apalah demi sepatu kecil untuk adik Nesa. Dan meskipun gak bisa nonton film Sepatu Dahlan karena full booked, yang penting bisa bawa pulang sepatu kecil adik Nesa. J
Senja di Stasiun Wonokromo....
Langit semakin gelap. Kita menunggu kereta untuk pulang. Rupanya gak on time. Kereta tiba 15 menit lebih lambat dari jadwal yang tertulis di tiket. Namun kekecewaan itu musnah saat melihat kereta api “Arjuno” yang sangat bagus itu. Kereta yang masih baru dan nyaman, berbeda jauh dengan kereta untuk berangkat tadi. Harga tiket pun 2x lipat. Pintu terbuka otomatis dan kita pun menaikinya. Meski tanpa AC tapi gak masalah karena gak panas. Suhu udara di dalam sama dengan di luar. Kereta ini jauh lebih nyaman lagi. Interior yang baru dan modern jadi menggelitikku untuk mengambil foto. Sebenarnya ingin lebih lama naiknya, tapi tentu 1 jam perjalanan sudah cukup untuk sampai di Stasiun Mojokerto. Gak nyangka lagi, saat turun dari kereta ternyata bertemu dengan Putri, teman SMA yang juga baru turun dari kereta yang sama. Wah, senangnya bisa sampai di Mojokerto lagi.... J